Terkadang, kita terbiasa bilang pada diri sendiri,
“Aku nggak bisa.”
Tapi benar begitu?
Apakah kita benar-benar nggak mampu,
atau sebenarnya kita hanya belum berani mencoba?
Sering kali, yang membuat kita berhenti,
bukan karena kita lemah,
tapi karena kita terlalu sibuk memikirkan
kemungkinan untuk gagal.
Takut salah.
Takut nggak cukup baik.
Takut bikin orang kecewa.
Padahal, tanpa sadar
ketakutan itulah yang pelan-pelan mengikat langkah kita.
Kita menahan diri untuk mulai,
padahal belum berusaha apa-apa.
Kita menutup pintu yang bahkan belum sempat kita buka.
Dan akhirnya,
kita percaya pada kebohongan kecil yang kita ciptakan sendiri:
bahwa kita nggak mampu.
Padahal,
kemampuan itu tumbuh dari keberanian untuk mencoba.
Dari langkah pertama yang kadang goyah,
dari usaha yang mungkin belum sempurna.
Boleh kok merasa takut.
Boleh kok ragu.
Asal jangan sampai rasa itu membuat kita berhenti di titik yang sama.
Persiapan itu penting,
tapi kalau terlalu lama berhitung risiko,
kita nggak akan pernah tahu bagaimana rasanya melangkah.
Jadi, sebelum bilang “aku nggak bisa,”
tanya dulu ke diri sendiri,
benarkah aku nggak mampu,
atau aku cuma belum berani memulai?
Karena kadang, satu-satunya yang membedakan antara berhasil dan tidak,
bukan seberapa hebat kita,
tapi seberapa beraninya kita untuk mencoba.