“Aku memang begini orangnya.
Kalau mau terima, terima.
Kalau nggak, terserah.”
Kalimat itu terdengar kuat,
namun sering kali jadi tameng,
bagi ego yang enggan berubah.
Ego yang dibungkus dengan kejujuran,
padahal sebenarnya hanya takut untuk berubah.
Tapi,
sejak kapan berhenti tumbuh,
jadi sesuatu yang dibanggakan?
sejak kapan diam di tempat,
dianggap sebagai kekuatan?
Diri kita bukan batu.
Bukan juga mesin tanpa hati.
Bahkan robot pun bisa di-upgrade.
Lalu, kenapa kita menolak untuk bertumbuh?
Kita boleh berubah.
Kita layak untuk tumbuh.
Bukan demi membuat orang senang,
bukan pula untuk mencari pujian.
Tapi karena dunia tak pernah diam,
dan kita pun pantas untuk ikut berjalan.
Jadi ‘diri sendiri’ itu baik,
tapi jangan jadikan alasan untuk berhenti belajar.
Karakter bukan pusaka yang harus dijaga tetap utuh,
tapi, lukisan yang digores ulang setiap hari.
dengan warna-warna yang kita pilih
dari pengalaman dan keberanian.
Menjadi dewasa,
bukan hanya tentang diterima apa adanya,
tapi juga tentang berani bertanya:
“Bisakah aku jadi versi diriku yang lebih baik?”
Dewasa adalah tentang lepas dari zona nyaman,
mengakui bahwa perubahan itu perlu,
dan memilih untuk terus melangkah,
meski kadang harus melawan musuh terbesar:
diri sendiri.
Karena tumbuh bukan berarti berubah menjadi orang lain.
Tapi menjadi diri sendiri,
dengan versi yang lebih kuat,
lebih bijak,
dan lebih siap.