Dia yang benar-benar mengagumi Bulan,
Akan tetap mengaguminya,
Meski seisi dunia bilang
“permukaannya tidak semulus yang terlihat dari Bumi loh”.
Tidak peduli saat sabit, setengah, cembung, ataupun purnama
Di mata dia,
Bulan tetaplah bulan.
Dia tau kok, di langit masih banyak bintang yang bisa bersinar sendiri
Tak seperti bulan, yang hanya memancarkan cahaya matahari,
bukan cahayanya sendiri.
Tapi di mata dia, bulan tetaplah bulan
Yang disaat semua memilih terlelap,
Bulan justru terjaga menemaninya dalam senyap
Yang kalau melihatnya,
Rasanya seperti melihat harapan bahwa
“gelap yang dijalani tidak semenakutkan itu kok”
Bulan menemaninya belajar, bahwa banyak hal indah yang justru baru dapat dinikmati saat gelap
Bahwa justru dalam gelap,
Cahaya terasa seberharga itu.
Bulan mengajarkannya,
Kalau nggak semua harus seperti matahari yang bersinar terik dan membangkitkan orang-orang.
Kadang,
Menjadi yang hanya diam menemani bisa seberat itu.
Bulan menunjukkan bahwa dia harus tetap hidup,
Walau kehadirannya tidak dinanti dan kepergiannya tidak diantar, seperti matahari.
Bukan ingin menutup mata,
Tapi untuk apa mencari keburukannya,
Kalau dari awal sudah tahu, bahwa bulan tidak untuk dia miliki, tidak untuk dia tinggali.
Sejak awal memutuskan mengagumi bulan,
Dia sudah menerima kenyataan kok,
Bahwa yang dibutuhkan bulan untuk tetap bersinar bukan dia.
Terlebih jarak yang teramat jauh,
Dengan segala keterbatasan yang ada,
Sudah lebih dari cukup untuk menyadarkannya.
Bahwa menggapai bulan adalah kemustahilan.
Berkecil hati?
Mengapa?
Untuk apa menjelek-jelekkan sesuatu yang tidak bisa dimiliki,
Hanya agar bisa dapat menyukai dan menerima yang lain.
Bukankah lebih baik,
Kalau menyimpan ingatan tentang bulan,
Hanya yang baik-baiknya saja?
Pecandu Bulan