Menu Tutup

Sekuat Bapak

Pak,
garis di wajahmu, jadi bukti betapa hebatnya Bapak memperjuangkan hidup ini.
Setelah dewasa, hidup mengajarkanku perihnya gagal dan patah, Pak.
Ternyata, menanggung tanggung jawab besar tidak semudah kelihatannya.

Pak,
kata Bapak, hidup berputar pada dua sisi:
saat di atas, jangan lengah.
Saat di bawah, jangan patah.
Setelahnya, aku mengerti, Pak
makna kalimat itu jauh lebih dalam,
dan sulit untuk dilakukan.

Pak,
akankah aku sekuat bapak?
Tak lengah menghadapi riuhnya hidup dengan segala ujiannya.
Tak patah menghadapi hasil yang lebih pahit,
meski perjuangannya mati-matian aku pertaruhkan.
Apakah aku mampu pak?

Pak,
Kadang aku takut,
kadang aku takut tidak sehebat bapak,
tidak seberhasil bapak.

Entah bagaimana,
hidup memukulku telak,
tak peduli sekeras apapun aku berusaha sampai ke tujuan, pak.
Aku takut menyerah pak.

Pak,
aku masih ingin belajar lebih banyak dari bapak,
tentang keberanian,
tentang cara bapak melihat hidup tanpa takut.
Ajarkan aku, pak,
bagaimana menghadapi badai, dengan dada yang lapang,
bagaimana bertahan, meski angin kencang menerjang,
bagaimana tetap tersenyum, saat hati terasa berat.

Pak,
aku ingin suatu hari nanti,
Saat aku berdiri di hadapanmu lagi,
aku bisa berkata dengan yakin,
bahwa aku telah melakukan yang terbaik,
bahwa aku telah menjadi sekuat dan sehebat Bapak.

Aku tak ingin mengecewakanmu, pak.
Aku tak ingin menyerah pada hidup yang keras ini.

Jadi pak,
doakan aku pak,
agar aku bisa menjadi diriku yang terbaik,
seperti yang selalu Bapak ajarkan.

Pak,
aku akan tumbuh dengan hebat.
aku akan bertahan dengan kuat.
Sekuat bapak.
Sehebat bapak.

Aku, ingin seperti bapak…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *