Bu,
Aku sedang kecewa dengan diriku.
Sedang marah pada hidupku.
Sedang benci pada manusia yang kusebut “aku”.
Aku merasa,
tak ada yang bisa dibanggakan dari pencapaianku.
Tak ada yang sungguh menanti kehadiranku.
Seolah aku berada di antara ada dan tiada.
Aku lelah, Bu — rasanya ingin menyerah.
Namun, di ruang hati paling dalam,
ada suara kecil berbisik:
“Aku juga ingin tumbuh indah.”
Meski perlahan,
aku yakin suatu hari nanti akan mekar,
lebih kuat, lebih hangat dari sebelumnya.
Pencapaian kecil pun, bila dikumpulkan, akan menjadi besar.
Meski sering tak terlihat,
setidaknya aku tahu,
diriku sendiri bisa merasakan langkah-langkah kecil itu.
Semoga nanti, engkau pun bisa ikut bangga dan tersenyum,
merayakan segala yang telah kulalui.
Bu,
jika prosesku ini panjang dan melelahkan,
bisakah keriput di pipimu tak bertambah dulu?
Aku takut kalah oleh waktu,
sementara beban di kepala dan pundakmu
belum semua bisa kuangkat.
Mimpi-mimpi yang kita rajut belum jadi nyata,
dan aku masih sering khawatir,
masih sering bertanya,
“kapan aku bisa membuatmu benar-benar bangga?”
Tunggulah aku, Bu.
Doakan setiap upayaku.
Agar suatu hari nanti,
senyummu menjadi saksi bahwa aku akhirnya sampai.