Setiap manusia hidup dengan kebiasaan yang berbeda-beda.
Dan justru perbedaan itulah,
Yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang begitu ruwet.
Kata Mereka:
“Kamu tak perlu berubah, hanya demi mengejar kata ‘istimewa’. Karena pada dasarnya, perbedaanmu itulah yang menjadikanmu istimewa.”
“Kamu ada untuk aku, untuk dia, untuk mereka.
Hadir melengkapi kesempurnaan dari riuhnya dunia ini.
Kamu bukan aku, bukan dia, dan juga bukan mereka. Cukup jadi dirimu sendiri. Kamu sudah sempurna, dengan semua yang melekat dalam dirimu.”
Tapi…
Mungkin, itu menenangkan,
Hanya untuk saat ini saja.
Tanpa kamu sadari,
nanti akan datang saat di mana kamu berubah.
Seperti aku,
yang dulu begitu yakin tak akan pernah berubah.
Dan sampai sekarang, aku masih merasa belum berubah.
Masih merasa bahwa aku, adalah aku yang dulu.
Tapi ternyata,
setiap kepingan kecil kehidupan yang kuhadapi,
setiap persinggahan, setiap kehilangan, setiap pertemuan,
semuanya perlahan mengubahku
sedikit demi sedikit, tanpa aba-aba.
Ia mengikis egoku, secuil demi secuil.
Menggulung pikiranku, berputar-putar dalam diam.
Menggerogoti senyumku, perlahan namun nyata.
Ternyata…
Pendirian yang kuanggap kuat,
Bisa begitu rapuh saat diuji oleh waktu.
Aku tidak menyadarinya sejak awal.
Perubahan itu tidak pernah datang dalam bentuk badai,
tapi seperti embun yang jatuh diam-diam,
namun perlahan membasahi seluruh bagian dari diriku.
Dan mungkin, kamu pun akan mengalaminya.
Bukan karena kamu lemah,
bukan karena kamu menyerah,
tapi karena hidup selalu mengajarkan cara baru,
untuk selalu tabah.
Jadi, jika suatu hari,
Kamu merasa dirimu tak lagi sama,
jangan takut.
Mungkin itulah caramu tumbuh.
Dan dalam perubahan itu,
kamu akan menemukan versi dirimu yang baru
yang tetap berharga, tetap layak dicintai,
meski tak lagi persis seperti dulu.